Afwan, mo tanya, sy jamaah pusdai. Saya sering shalat di Masjid Pusdai dan sering diimami imam yang (maaf) “rewel” soal meluruskan barisan shalat, sampe lama ngaturnya dan membuat “kesel” jamaah. Sebetulnya apa mesti seserius itu barisan shalat harus diatur. Maaf jika tidk berkenan. 08178765XXX JAWAB: Hukum meluruskan dan merapatkan shaf (barisan) dalam shalat berjamaah adalah wajib. Seorang imam dilarang memulai shalatnya sebelum meluruskan shaf, baik meluruskannya sendiri maupun dengan menyuruh orang lain
untuk meluruskannya. Cukup banyak hadits Rasul yang menegaskan keharusan meluruskan shaf shalat, di antaranya sebagai berikut: "Luruskan shaf-shaf kalian karena lurusnya shaf merupakan bagian dari kesempurnaan shalat (HR Bukhari-Muslim). "Luruskan shaf-shaf kalian dan rapatkanlah... " (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim). "Luruskanlah shaf-shaf kalian atau (kalau tidak) sungguh Allah akan menimbulkan perselisihan di antara kalian" (Diriwayatkan oleh Malik, Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Nasa'i dan Ibnu Majah). "Saya melihat salah seorang diantara kami menempelkan tumitnya dengan tumit orang lain disampingnya" (HR Bukhari). Suatu hari ketika Rasulullah hampir bertakbir, tiba-tiba beliau melihat seseorang yang dadanya lebih maju dari shaf, lalu beliau bersabda, "Wahai hamba-hamba Allah, luruskan shaf-shaf kalian atau (jika tidak) sungguh Allah akan menimbulkan kebengkokan di antara kalian" Di dalam riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban di dalam Shahih-nya: Rasulullah Saw datang dengan menghadapkan wajahnya kepada orang-orang lalu bersabda: "Luruskanlah shaf-shaf kalian atau (jika tidak) sungguh Allah akan menimbulkan kebengkokan di antara hati-hati kalian." Rasulullah bertanya: "Apakah kalian tidak berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat di sisi Rabb mereka?" Maka kami berkata: "Wahai Rasulullah , bagaimana berbarisnya malaikat di sisi Rabb mereka ?" Beliau menjawab : "Mereka menyempurnakan barisan-barisan [shaf-shaf], yang pertama kemudian [shaf] yang berikutnya, dan mereka merapatkan barisan" [HR. Muslim, An Nasa'i dan Ibnu Khuzaimah]. Dalam hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari An Nu'man bin Basyir, Beliau shallallahu 'alaihi wasallam berkata: Artinya: Dahulu Rasullullah meluruskan shaf kami sampai seperti meluruskan anak panah hingga beliau memandang kami telah paham apa yang beliau perintahkan kepada kami (sampai shof kami telah rapi-pent), kemudian suatu hari beliau keluar (untuk shalat) kemudian beliau berdiri, hingga ketika beliau akan bertakbir, beliau melihat seseorang yang membusungkan dadanya, maka beliau bersabda: "Wahai para hamba Allah, sungguh kalian benar-benar meluruskan shaf atau Allah akan memperselisihkan wajah-wajah kalian" [HR. Muslim] Sedangkan hadits yang diriwayatkan dari Anas ra., Beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Tegakkan shaf-shaf kalian dan rapatkan bahu-bahu kalian dan tutuplah celah-celah dan jangan kalian tinggalkan celah untuk syaithan, barangsiapa yang menyambung shaf niscaya Allah akan menyambungnya dan barangsiapa memutus shaf niscaya Allah akan memutuskannya". [HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Ibnu Khuzaimah dan Al Hakim ] Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang paling depan, dan sejelek-jelek shaf laki-laki adalah yang laing belakang… (H.R. Muslim). Kalaulah manusia mengetahui apa yang terdapat di azan dan shaf pertama (dari besarnya pahala-pent) kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali dengan diundi, maka pastilah mereka telah mengadakan undian, dan kalaulah mereka mengetahui apa yang terdapat di sikap selalu didepan, pastilah mereka telah mendahuluinya, dan kalaulah mereka mereka mengetahui apa yang terdapat di shalat isya dan shalat subuh (dari keuntungan) maka pastilah mereka mendatangi keduanya walaupun dengan merayab. (Bukhari dan Muslim). Jika jamaah sudah paham, tentu barisan akan lurus dan rapat, imam pun tidak mesti berlama-lama merapatkan barisan, namun sekadar mengingatkan saja sebelum shalat dimulai. Wallahu a'lam.* |